Tuesday, April 21, 2026

Maaf Pak Sapardi

Maaf Pak Sapardi,

Aku sepertinya belum bisa mencintainya dengan sederhana

Aku tidak bisa menjadi kayu yang tak sempat mengucapkan apapun pada api

Justru akulah si api itu, yang membakar seluruh diam sehingga berkobarlah kata-kata



Maaf Pak Sapardi,

Aku sepertinya belum bisa mencintainya dengan sederhana

Aku tidak bisa menjadi awan yang tak sempat memberikan isyarat apapun

Justru aku adalah awan yang menciptakan badainya sendiri, lalu hancur karena ketiadaan



Maaf Pak Sapardi,

Sepertinya aku belum bisa mencintainya dengan sederhana

Monday, January 5, 2026

Nomor Satu

Hari ini kamu tidak disini
Tidak tahu besok, lusa, atau selamanya

Suaramu terdengar jelas di ruang sunyi busuk yang kubangun dari beton tebal bernama keras kepala
Sebuah ruang yang kukira pertahanan

Kamu membukanya pintunya perlahan, masuk dengan santun lalu duduk dipojokan yang menurutmu nyaman
Mengatur nafas dengan lembut dan mengirim sinyal aman padaku:
Aku menembus pertahananmu

Ruang sunyi busuk yang kukira benteng itu kamu tembus perlahan dengan cinta
Yang dengan bodohnya masih belum aku terima

Rasa yang kau bawa menembus batas pertahanan yang pernah pongah kubuat

Kemarin, saat kau masih disini
Tidak tahu besok, lusa, atau selamanya


Januari, 2026

Sunday, June 15, 2025

Seseorang Memulai Awal, Semua Orang Menangisi Akhir

Memang sepertinya kita akan berjalan menuju sebuah ruang. 
Ruang-ruang hampa yang disiapkan Tuhan di hati masing-masing kita memang harus dinyalakan.
Melihatmu pergi berjalan sendiri, memantik ruang hampa itu menjadi dingin. 

Sangat dingin. 

Sehingga saking dinginnya, kita tidak punya waktu lagi untuk menahan apapun.

Ruang tersebut sudah disiapkan Sang Pencipta untuk diisi orang-orang yang pernah kita sayangi. Ia akan mengisi ruang sunyi dingin tersebut dengan memori sampai nanti.

Tangis kita pecah.
Hangatnya air mata tidak akan pernah cukup untuk mengubah temperatur ruang tersebut.
Ia akan tetap dingin, sunyi, kedap udara, dan segala bentuk tidak enak lainnya. 

Namun aku rasa, kita patut bersyukur Tuhan membangun ruang itu di masing-masing kita. Ruang yang dingin, sunyi, dan kedap udara tersebut dapat kita isi dengan orang-orang yang kita cintai.

Lengkap dengan senyum, tawa, suara
Bercandamu yang aneh, pola pikirmu yang kadang tidak bisa kita pahami. 
Debat debat tidak penting yang hanya akan menghabiskan malam dengan sia-sia.
Lagu-lagu favorit yang sering kau nyanyikan dengan suara seadanya.

Tuhan sengaja menciptakan ruang di hati kita masing-masing. Untuk menyimpan semua tentangmu. Utuh. 


Thursday, January 4, 2024

Lelaki Ibu

Aku melihatnya sebagai semangat
Seperti angin yang menghembus takdir
yang telah lama ditetapkan

Aku mengamatinya sebagai kuat
Seperti langit yang terus lapang
digelar siang dan malam berulang kali

Aku memeluknya sebagai tegar
Seperti sayap bangau
yang sekali setahun bermigrasi

Lalu apakah aku?

Aku hanya anak lelakinya yang tak tahu malu
Dan hampir menyerah

Tuhan,
Apakah aku adalah durhaka paling sempurna
Yang pernah keluar dari rahimnya?



*note: teruntuk teman yang teramat kuat merawat ibunya


Monday, December 25, 2023

Minggu Sore Di Pasar Buah

Minggu sore adalah waktunya membeli buah
Dan waktuku menemani kebingungannya

•••

Perkara apel saja harus yang tidak terlalu masak
80% menuju masak katamu
Karena yang terlalu masak itu mengandung zat tertentu yang tidak terlalu baik untuk kesehatan

Belum lagi pisang
Harus yang jenis tertentu
Kalau yang ini harus masak betul
Sampai-sampai sudah banyak noda hitam dikulitnya
Itu juga mengandung zat tertentu yang justru baik untuk kesehatan, katamu lagi

Menemanimu membeli buah pada Minggu sore adalah rutinitas yang sudah berlangsung sekian lama
Melihatmu marah-marah, bingung sendiri tak jelas, sedih karena tak mendapatkan yang kau mau dan beberapa bentuk perasaan kecewamu yang tak bisa kau tutupi itu

Aku hanya hadir dan menggenapi semua kisah pencarian buahmu
Tanpa aku bisa bersuara dan memberikan pendapat

Kadang kala ingin rasanya aku memberitahumu bahwa:
Apel itu tetap enak walaupun masak!
Atau:
Semua pisang itu menyegarkan apapun itu jenisnya!

Bahkan ingin pula rasanya aku berteriak di depan matamu bahwa:
Yang kau butuhkan bukan buah!

•••

Sangat menyebalkan jika kau mengetahui orang yang kau sayang selalu salah dalam memilih buah
Dan kau masih saja menemaninya setiap Minggu sore memilih kebingungannya

Dan yang lebih menyebalkan lagi:
Ini bukan perkara buah


Sunday, December 24, 2023

Daftar Acara

Malam tadi, matamu bulan
Ditutupi kabut yang kubuat sendiri
Kata-katamu dingin malam
Yang kupersilakan tampil walau tidak ada di daftar acara

Sembari duduk dipinggiran doa
Aku sibuk menerka prasangkaku sendiri
Apakah ini babak awal sebuah luka?

Yang lagi-lagi kupersilakan tampil walau tidak ada di daftar acara


Friday, December 22, 2023

Monokromasi

Merangkaimu dengan lukisan tidaklah mudah
Aku harus menyesuaikan bentuk dan warna
Sesuai keegoisanku, dan se-defensif keegoisanmu

Satu-satu warna kupilih
Kuletakkan pelan-pelan diatas canvas keyakinan
yang semakin hari semakin pudar

Namun,

Rangkaian ini tetap akan kulukis
Dengan kuas doa dan tinta harap

Seiring pendar pukul lima, aku melukis wajahmu
Dengan tinta warna warni

Walaupun aku tahu betul, aku buta warna


Thursday, December 21, 2023

Tatap Muak

Aku mencoba melukis matamu sebagai nadi di dalam pembuluh kata-kataku

Aku melukis dengan kuas doa dan tinta harap

Ternyata hasilnya kotor, menjijikkan dan membuatku muak


Friday, December 15, 2023

Rengkuh

Aku pernah memelukmu

Memasukkan semua unsur tubuhmu kedalam

tubuhku dalam sekali rengkuh


Tidak menyisakan sedikitpun spasi

Dalam peluk kusyuk dan panjang ini


Aku pernah memelukmu

Menahanmu untuk susah bernafas karena terlalu

erat tubuh kita saling berpagut


Tak meyisakan sedikitpun detik

Karena kita sama sama tahu

Ini tak akan berlangsung selamanya


Aku pernah memelukmu sekali rengkuh

Mencintaimu sekali jadi


Hingga aku harus mendefinisikan ulang peluk

Karena kau tak ada lagi

Thursday, December 30, 2021

Desiderium

Aku menulis penyesalan

Kata per kata, kalimat per kalimat, rasa per rasa

Yang masih sama seperti bilangan tahun kali pertama


Aku menulis penyesalan

Dialamatkan kepada yang katanya tahu semua

Bahwa kepalaku terlalu besar untuk dimahkotai senyummu


Aku menulis penyesalan

Kepada jauh yang bukan jarak

Yang seharusnya bisa ditempuh dua atau tiga masa


Aku menulis penyesalan


Maaf,

Aku tak terlalu keras mengejarmu

Saturday, October 24, 2020

Adu Rindu

Wong ini cinta, Cah Ayu.
Ndak buat diadu, ndak.

Jangan seakan-akan kalau aku ndak bilang rindu, itu berarti aku ndak cinta, ndak.

Yang bagian tanya udah makan apa belum, kemarin pulang jam berapa, vitaminnya udah diminum belum, itu bagianmu saja.

Bagianku, tak yang ndak sering-sering bilang rindu, tapi kalau kamu ndak kasih kabar setengah hari saja, pingin itu tak gigit trotoar depan rumah.

Wong ini tuh cinta, Cah Ayu.
Cintaku ini kuat, kayak Mike Tyson.
Kamu ndak akan menang, ndak.


Friday, October 9, 2020

Aku Melukismu

Aku memikirkanmu saat sedang melukis kebebasan
Aku langit dan kau elang

Matanya, matamu ketika sedang cemburu


Monday, July 20, 2020

Ima

Aku tak tahu,
mengapa sungguh susah payah menemukanmu akhir-akhir ini.
Dua tiga putaran terakhir menjadi yang paling susah untuk kita  masing-masing sadar.
Pun saat ini, sekarang.
Putaran yang seakan menjadi pusaran ini sepertinya menjadi yang terberat dalam menemukan,
namun menjadi yang terkuat dalam keyakinan.

Tak bisa sajakah kita sama-sama erat dalam waktu yang tak terbatas tanpa terjebak dalam hitungan bilangan?

Sebentar, biarkan aku memancingmu dengan sajak:
"Wajahku sungai, didalamnya mengalir air mata. Sedang kau malam, di dalamnya mengalun kerelaan."

Kekasih, tak ingatkah kau?


Thursday, July 9, 2020

Kau Adalah Puisi Yang Tak Akan Pernah Tuntas

Pagi ini aku menuntaskanmu dalam sebuah puisi, Cah Ayu.
Maaf aku melibatkanmu dalam banyak hal.

Kupikir, rasa kosong yang belum kau isi ini hanya metafor yang biasa dipakai penulis dalam sastranya.
Tapi pagi ini aku merasakannya, Cah Ayu.
Dadaku sakit namun tak seperti nyeri.
Sakitnya seperti kurang, seperti tak utuh saja rasanya.
Mataku juga panas, namun tak keluar apa-apa.

Maaf Cah Ayu, aku telah melibatkanmu dalam banyak hal.

Kupikir aku bisa menari dengan rasa yang kubuat ini sendiri.
Tapi ternyata tidak, aku tetap membutuhkanmu pagi ini.
Tanyaku pada diriku sendiri dari tadi hanya satu, Cah Ayu.
Salahkah aku?
Salahkah aku jika sampai nanti setiap pagi aku mencintaimu?
Dan sorenya juga?

Pagi ini aku menuntaskanmu dalam puisi sekali jadi.
Sialnya, puisi ini tak akan pernah bisa tuntas jika kau adalah nyawanya.

Cah Ayu, maafkan aku jika akan selalu melibatkanmu dalam segala hal.


Sunday, March 22, 2020

Sajak Tanya Temu

Kita bertemu melalui sudut sudut
Kita bertemu melalui tidak masuk akal yang menjadi masuk akal
Kita bertemu melalui mata yang bersedia kumasuki
Kita bertemu melalui singgung pulang pada sore
Kita bertemu melalui kata
Kita bertemu melalui lagu
Kita bertemu melalui gumam pagi hari hari
Kita bertemu melalui batasan-batasan yang kita buat masing-masing
Kita bertemu melalui gigi seri tak beraturan itu
Kita bertemu melalui kuku kuku
Kita bertemu melalui rayu ragu
Kita bertemu melalui angkasa raya
Kita bertemu melalui ramah-marah , marah-ramah
Kita bertemu melalui jalan jalan setapak pikir
Kita bertemu melalui lekuk rindu rindu
Kita bertemu melalui tanya

Kenapa kita harus bertemu?

Monday, August 19, 2019

Alpa, Alpa, Alpa

Kalau seperti ini bagaimana kelihatannya:

Jika saya monyet,
Kamu anjing.


Wednesday, May 29, 2019

Sore Itu Milikmu

Ini dia
Yang pernah peluk tak mau sudah
Dan genggam tak kunjung selesai

Apa pernah aku meminta sebelumnya?
Untuk jumpa yang tak kunjung temu
Dan kesepakatan yang tak usang disegerakan

Itu senyum apa musim gugur?
Tak satupun daun melepas isyaratnya
Tak satupun rindu kau bawa serta

Oh, mungkin kau hanya selamat tinggal
Yang tak jadi diucapkan pelukmu sore itu


Thursday, March 14, 2019

Jum'at

Rindu ini mengalir, Kekasih.
Tepat dari ujung mata menuju samuderamu.

Terimalah rindu usangku ini, Kekasih.
Takkan hentinya aku merindumu.

Sekarang, nanti, sesampainya kekal selama-lamanya.


Thursday, October 25, 2018

Seseorang Mencuri Kata "_______" Dariku.

Tadi malam sewaktu aku melipat tubuhku di ujung kursi, ada temanku yang menghampiri.
"Sedang apa kau?", tanyanya.
Kujawab sekenanya:
"Kau pikir aku sedang apa? Tak lihat kau aku sedang menekuni malam yang tak bosannya dia membawa sepi?"
Temanku menekuk mukanya, segera setelah dia sadar tak ada lagi kretek yang kupunya.
Bangsat! Batinnya.
Pertanyaan basa-basi nya kujawab sekenaku dan masih saja dia tak dapat barang sebatang kretek.

Seorang lagi menghampiriku di kursi itu.
Bukan teman bukan sahabat bahkan bukan saudara.
Mukanya ramah, rambutnya aneh semacam disisir dengan duka yang terlalu lama.
"Jika sudah, kabari aku ya. Bisa kan? Kau kan hebat. Ayolah, keburu pagi".
Bangsat! Batinku.
Pertanyaan basa-basi dan tak jelas darinya meninggalkan asap yang mengkabut di mataku. Segera setelahnya aku menghirup kretek tanpa putus sampai pagi.

Temanku dari kejauhan menghardik malam:
"Bajingan! Tadi kau bilang kau tak punya kretek!"


Wednesday, August 15, 2018

Perempuanku Tak Ada Yang Menangis

Ini berat, katamu.
Juga jalin masa lalumu, kau menambahkan.

Aku tak peduli.
Aku adalah pelukmu, kubilang.

Kau mulai tersedu dan tak berencana melepas pelukmu.

Jika kau masih ingin bersamaku, berhentilah menangis.

Perempuanku tak ada yang menangis.


Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.