Tuesday, April 21, 2026
Maaf Pak Sapardi
Monday, January 5, 2026
Nomor Satu
Sunday, June 15, 2025
Seseorang Memulai Awal, Semua Orang Menangisi Akhir
Thursday, January 4, 2024
Lelaki Ibu
Aku melihatnya sebagai semangat
Seperti angin yang menghembus takdir
yang telah lama ditetapkan
Aku mengamatinya sebagai kuat
Seperti langit yang terus lapang
digelar siang dan malam berulang kali
Aku memeluknya sebagai tegar
Seperti sayap bangau
yang sekali setahun bermigrasi
Lalu apakah aku?
Aku hanya anak lelakinya yang tak tahu malu
Dan hampir menyerah
Tuhan,
Apakah aku adalah durhaka paling sempurna
Yang pernah keluar dari rahimnya?
*note: teruntuk teman yang teramat kuat merawat ibunya
Monday, December 25, 2023
Minggu Sore Di Pasar Buah
Minggu sore adalah waktunya membeli buah
Dan waktuku menemani kebingungannya
•••
Perkara apel saja harus yang tidak terlalu masak
80% menuju masak katamu
Karena yang terlalu masak itu mengandung zat tertentu yang tidak terlalu baik untuk kesehatan
Belum lagi pisang
Harus yang jenis tertentu
Kalau yang ini harus masak betul
Sampai-sampai sudah banyak noda hitam dikulitnya
Itu juga mengandung zat tertentu yang justru baik untuk kesehatan, katamu lagi
Menemanimu membeli buah pada Minggu sore adalah rutinitas yang sudah berlangsung sekian lama
Melihatmu marah-marah, bingung sendiri tak jelas, sedih karena tak mendapatkan yang kau mau dan beberapa bentuk perasaan kecewamu yang tak bisa kau tutupi itu
Aku hanya hadir dan menggenapi semua kisah pencarian buahmu
Tanpa aku bisa bersuara dan memberikan pendapat
Kadang kala ingin rasanya aku memberitahumu bahwa:
Apel itu tetap enak walaupun masak!
Atau:
Semua pisang itu menyegarkan apapun itu jenisnya!
Bahkan ingin pula rasanya aku berteriak di depan matamu bahwa:
Yang kau butuhkan bukan buah!
•••
Sangat menyebalkan jika kau mengetahui orang yang kau sayang selalu salah dalam memilih buah
Dan kau masih saja menemaninya setiap Minggu sore memilih kebingungannya
Dan yang lebih menyebalkan lagi:
Ini bukan perkara buah
Sunday, December 24, 2023
Daftar Acara
Malam tadi, matamu bulan
Ditutupi kabut yang kubuat sendiri
Kata-katamu dingin malam
Yang kupersilakan tampil walau tidak ada di daftar acara
Sembari duduk dipinggiran doa
Aku sibuk menerka prasangkaku sendiri
Apakah ini babak awal sebuah luka?
Yang lagi-lagi kupersilakan tampil walau tidak ada di daftar acara
Friday, December 22, 2023
Monokromasi
Merangkaimu dengan lukisan tidaklah mudah
Aku harus menyesuaikan bentuk dan warna
Sesuai keegoisanku, dan se-defensif keegoisanmu
Satu-satu warna kupilih
Kuletakkan pelan-pelan diatas canvas keyakinan
yang semakin hari semakin pudar
Namun,
Rangkaian ini tetap akan kulukis
Dengan kuas doa dan tinta harap
Seiring pendar pukul lima, aku melukis wajahmu
Dengan tinta warna warni
Walaupun aku tahu betul, aku buta warna
Thursday, December 21, 2023
Tatap Muak
Aku mencoba melukis matamu sebagai nadi di dalam pembuluh kata-kataku
Aku melukis dengan kuas doa dan tinta harap
Ternyata hasilnya kotor, menjijikkan dan membuatku muak
Friday, December 15, 2023
Rengkuh
Aku pernah memelukmu
Memasukkan semua unsur tubuhmu kedalam
tubuhku dalam sekali rengkuh
Tidak menyisakan sedikitpun spasi
Dalam peluk kusyuk dan panjang ini
Aku pernah memelukmu
Menahanmu untuk susah bernafas karena terlalu
erat tubuh kita saling berpagut
Tak meyisakan sedikitpun detik
Karena kita sama sama tahu
Ini tak akan berlangsung selamanya
Aku pernah memelukmu sekali rengkuh
Mencintaimu sekali jadi
Hingga aku harus mendefinisikan ulang peluk
Karena kau tak ada lagi
Thursday, December 30, 2021
Desiderium
Aku menulis penyesalan
Kata per kata, kalimat per kalimat, rasa per rasa
Yang masih sama seperti bilangan tahun kali pertama
Aku menulis penyesalan
Dialamatkan kepada yang katanya tahu semua
Bahwa kepalaku terlalu besar untuk dimahkotai senyummu
Aku menulis penyesalan
Kepada jauh yang bukan jarak
Yang seharusnya bisa ditempuh dua atau tiga masa
Aku menulis penyesalan
Maaf,
Aku tak terlalu keras mengejarmu
Saturday, October 24, 2020
Adu Rindu
Wong ini cinta, Cah Ayu.
Ndak buat diadu, ndak.
Jangan seakan-akan kalau aku ndak bilang rindu, itu berarti aku ndak cinta, ndak.
Yang bagian tanya udah makan apa belum, kemarin pulang jam berapa, vitaminnya udah diminum belum, itu bagianmu saja.
Bagianku, tak yang ndak sering-sering bilang rindu, tapi kalau kamu ndak kasih kabar setengah hari saja, pingin itu tak gigit trotoar depan rumah.
Wong ini tuh cinta, Cah Ayu.
Cintaku ini kuat, kayak Mike Tyson.
Kamu ndak akan menang, ndak.
Friday, October 9, 2020
Aku Melukismu
Aku memikirkanmu saat sedang melukis kebebasan
Aku langit dan kau elang
Matanya, matamu ketika sedang cemburu
Monday, July 20, 2020
Ima
Aku tak tahu,
mengapa sungguh susah payah menemukanmu akhir-akhir ini.
Dua tiga putaran terakhir menjadi yang paling susah untuk kita masing-masing sadar.
Pun saat ini, sekarang.
Putaran yang seakan menjadi pusaran ini sepertinya menjadi yang terberat dalam menemukan,
namun menjadi yang terkuat dalam keyakinan.
Tak bisa sajakah kita sama-sama erat dalam waktu yang tak terbatas tanpa terjebak dalam hitungan bilangan?
Sebentar, biarkan aku memancingmu dengan sajak:
"Wajahku sungai, didalamnya mengalir air mata. Sedang kau malam, di dalamnya mengalun kerelaan."
Kekasih, tak ingatkah kau?
Thursday, July 9, 2020
Kau Adalah Puisi Yang Tak Akan Pernah Tuntas
Pagi ini aku menuntaskanmu dalam sebuah puisi, Cah Ayu.
Maaf aku melibatkanmu dalam banyak hal.
Kupikir, rasa kosong yang belum kau isi ini hanya metafor yang biasa dipakai penulis dalam sastranya.
Tapi pagi ini aku merasakannya, Cah Ayu.
Dadaku sakit namun tak seperti nyeri.
Sakitnya seperti kurang, seperti tak utuh saja rasanya.
Mataku juga panas, namun tak keluar apa-apa.
Maaf Cah Ayu, aku telah melibatkanmu dalam banyak hal.
Kupikir aku bisa menari dengan rasa yang kubuat ini sendiri.
Tapi ternyata tidak, aku tetap membutuhkanmu pagi ini.
Tanyaku pada diriku sendiri dari tadi hanya satu, Cah Ayu.
Salahkah aku?
Salahkah aku jika sampai nanti setiap pagi aku mencintaimu?
Dan sorenya juga?
Pagi ini aku menuntaskanmu dalam puisi sekali jadi.
Sialnya, puisi ini tak akan pernah bisa tuntas jika kau adalah nyawanya.
Cah Ayu, maafkan aku jika akan selalu melibatkanmu dalam segala hal.
Sunday, March 22, 2020
Sajak Tanya Temu
Kita bertemu melalui tidak masuk akal yang menjadi masuk akal
Kita bertemu melalui mata yang bersedia kumasuki
Kita bertemu melalui singgung pulang pada sore
Kita bertemu melalui kata
Kita bertemu melalui lagu
Kita bertemu melalui gumam pagi hari hari
Kita bertemu melalui batasan-batasan yang kita buat masing-masing
Kita bertemu melalui gigi seri tak beraturan itu
Kita bertemu melalui kuku kuku
Kita bertemu melalui rayu ragu
Kita bertemu melalui angkasa raya
Kita bertemu melalui ramah-marah , marah-ramah
Kita bertemu melalui jalan jalan setapak pikir
Kita bertemu melalui lekuk rindu rindu
Kita bertemu melalui tanya
Kenapa kita harus bertemu?
Monday, August 19, 2019
Wednesday, May 29, 2019
Sore Itu Milikmu
Ini dia
Yang pernah peluk tak mau sudah
Dan genggam tak kunjung selesai
Apa pernah aku meminta sebelumnya?
Untuk jumpa yang tak kunjung temu
Dan kesepakatan yang tak usang disegerakan
Itu senyum apa musim gugur?
Tak satupun daun melepas isyaratnya
Tak satupun rindu kau bawa serta
Oh, mungkin kau hanya selamat tinggal
Yang tak jadi diucapkan pelukmu sore itu
Thursday, March 14, 2019
Jum'at
Rindu ini mengalir, Kekasih.
Tepat dari ujung mata menuju samuderamu.
Terimalah rindu usangku ini, Kekasih.
Takkan hentinya aku merindumu.
Sekarang, nanti, sesampainya kekal selama-lamanya.
Thursday, October 25, 2018
Seseorang Mencuri Kata "_______" Dariku.
Tadi malam sewaktu aku melipat tubuhku di ujung kursi, ada temanku yang menghampiri.
"Sedang apa kau?", tanyanya.
Kujawab sekenanya:
"Kau pikir aku sedang apa? Tak lihat kau aku sedang menekuni malam yang tak bosannya dia membawa sepi?"
Temanku menekuk mukanya, segera setelah dia sadar tak ada lagi kretek yang kupunya.
Bangsat! Batinnya.
Pertanyaan basa-basi nya kujawab sekenaku dan masih saja dia tak dapat barang sebatang kretek.
Seorang lagi menghampiriku di kursi itu.
Bukan teman bukan sahabat bahkan bukan saudara.
Mukanya ramah, rambutnya aneh semacam disisir dengan duka yang terlalu lama.
"Jika sudah, kabari aku ya. Bisa kan? Kau kan hebat. Ayolah, keburu pagi".
Bangsat! Batinku.
Pertanyaan basa-basi dan tak jelas darinya meninggalkan asap yang mengkabut di mataku. Segera setelahnya aku menghirup kretek tanpa putus sampai pagi.
Temanku dari kejauhan menghardik malam:
"Bajingan! Tadi kau bilang kau tak punya kretek!"
Wednesday, August 15, 2018
Perempuanku Tak Ada Yang Menangis
Ini berat, katamu.
Juga jalin masa lalumu, kau menambahkan.
Aku tak peduli.
Aku adalah pelukmu, kubilang.
Kau mulai tersedu dan tak berencana melepas pelukmu.
Jika kau masih ingin bersamaku, berhentilah menangis.
Perempuanku tak ada yang menangis.