Saturday, October 24, 2020

Adu Rindu

Wong ini cinta, Cah Ayu.
Ndak buat diadu, ndak.

Jangan seakan-akan kalau aku ndak bilang rindu, itu berarti aku ndak cinta, ndak.

Yang bagian tanya udah makan apa belum, kemarin pulang jam berapa, vitaminnya udah diminum belum, itu bagianmu saja.

Bagianku, tak yang ndak sering-sering bilang rindu, tapi kalau kamu ndak kasih kabar setengah hari saja, pingin itu tak gigit trotoar depan rumah.

Wong ini tuh cinta, Cah Ayu.
Cintaku ini kuat, kayak Mike Tyson.
Kamu ndak akan menang, ndak.


Friday, October 9, 2020

Aku Melukismu

Aku memikirkanmu saat sedang melukis kebebasan
Aku langit dan kau elang

Matanya, matamu ketika sedang cemburu


Monday, July 20, 2020

Ima

Aku tak tahu,
mengapa sungguh susah payah menemukanmu akhir-akhir ini.
Dua tiga putaran terakhir menjadi yang paling susah untuk kita  masing-masing sadar.
Pun saat ini, sekarang.
Putaran yang seakan menjadi pusaran ini sepertinya menjadi yang terberat dalam menemukan,
namun menjadi yang terkuat dalam keyakinan.

Tak bisa sajakah kita sama-sama erat dalam waktu yang tak terbatas tanpa terjebak dalam hitungan bilangan?

Sebentar, biarkan aku memancingmu dengan sajak:
"Wajahku sungai, didalamnya mengalir air mata. Sedang kau malam, di dalamnya mengalun kerelaan."

Kekasih, tak ingatkah kau?


Thursday, July 9, 2020

Kau Adalah Puisi Yang Tak Akan Pernah Tuntas

Pagi ini aku menuntaskanmu dalam sebuah puisi, Cah Ayu.
Maaf aku melibatkanmu dalam banyak hal.

Kupikir, rasa kosong yang belum kau isi ini hanya metafor yang biasa dipakai penulis dalam sastranya.
Tapi pagi ini aku merasakannya, Cah Ayu.
Dadaku sakit namun tak seperti nyeri.
Sakitnya seperti kurang, seperti tak utuh saja rasanya.
Mataku juga panas, namun tak keluar apa-apa.

Maaf Cah Ayu, aku telah melibatkanmu dalam banyak hal.

Kupikir aku bisa menari dengan rasa yang kubuat ini sendiri.
Tapi ternyata tidak, aku tetap membutuhkanmu pagi ini.
Tanyaku pada diriku sendiri dari tadi hanya satu, Cah Ayu.
Salahkah aku?
Salahkah aku jika sampai nanti setiap pagi aku mencintaimu?
Dan sorenya juga?

Pagi ini aku menuntaskanmu dalam puisi sekali jadi.
Sialnya, puisi ini tak akan pernah bisa tuntas jika kau adalah nyawanya.

Cah Ayu, maafkan aku jika akan selalu melibatkanmu dalam segala hal.


Sunday, March 22, 2020

Sajak Tanya Temu

Kita bertemu melalui sudut sudut
Kita bertemu melalui tidak masuk akal yang menjadi masuk akal
Kita bertemu melalui mata yang bersedia kumasuki
Kita bertemu melalui singgung pulang pada sore
Kita bertemu melalui kata
Kita bertemu melalui lagu
Kita bertemu melalui gumam pagi hari hari
Kita bertemu melalui batasan-batasan yang kita buat masing-masing
Kita bertemu melalui gigi seri tak beraturan itu
Kita bertemu melalui kuku kuku
Kita bertemu melalui rayu ragu
Kita bertemu melalui angkasa raya
Kita bertemu melalui ramah-marah , marah-ramah
Kita bertemu melalui jalan jalan setapak pikir
Kita bertemu melalui lekuk rindu rindu
Kita bertemu melalui tanya

Kenapa kita harus bertemu?

Monday, August 19, 2019

Alpa, Alpa, Alpa

Kalau seperti ini bagaimana kelihatannya:

Jika saya monyet,
Kamu anjing.


Wednesday, May 29, 2019

Sore Itu Milikmu

Ini dia
Yang pernah peluk tak mau sudah
Dan genggam tak kunjung selesai

Apa pernah aku meminta sebelumnya?
Untuk jumpa yang tak kunjung temu
Dan kesepakatan yang tak usang disegerakan

Itu senyum apa musim gugur?
Tak satupun daun melepas isyaratnya
Tak satupun rindu kau bawa serta

Oh, mungkin kau hanya selamat tinggal
Yang tak jadi diucapkan pelukmu sore itu


Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.