Tidak tahu besok, lusa, atau selamanya
Suaramu terdengar jelas di ruang sunyi busuk yang kubangun dari beton tebal bernama keras kepala
Sebuah ruang yang kukira pertahanan
Kamu membukanya pintunya perlahan, masuk dengan santun lalu duduk dipojokan yang menurutmu nyaman
Mengatur nafas dengan lembut dan mengirim sinyal aman padaku:
Aku menembus pertahananmu
Ruang sunyi busuk yang kukira benteng itu kamu tembus perlahan dengan cinta
Yang dengan bodohnya masih belum aku terima
Rasa yang kau bawa menembus batas pertahanan yang pernah pongah kubuat
Kemarin, saat kau masih disini
Tidak tahu besok, lusa, atau selamanya
Januari, 2026
No comments:
Post a Comment