Thursday, September 11, 2014

Kau Mengejar, Aku Menunggu

Dua tiket kereta sore sudah ditangan
Lambai tangan dan muka kusutmu menyambut di peron paling ujung
Mengapa telat, kata pertamamu. Sudah menunggu setengah jam dan hampir mati bosan, lanjutmu
Sebenarnya, kalau perkara tunggu menunggu ini mau diadu, kita berdua tahu siapa yang keluar sebagai pemenangnya, kan?

Perjalanan kereta sore hari memang paling enak dipandang
Walaupun agak rusak oleh isakmu yang turun naik di kuping kiriku
Ceritamu tentang kekasih yang lalu memang tak pernah habis keluar dari bibirmu
Kau selalu muluk jika bicara tentang cinta
Cinta itu beda dengan drama
Yang kau dapat darinya cuma drama
Itulah alasan kenapa kita ada di kereta sore ini
Aku menemanimu mengejar drama

Berlarilah, berlarilah sekencangmu. Jika sudah lelah, balikan badanmu, aku ada disitu.

Monday, September 8, 2014

Tuhan Para Kere

Ada yang tahu, Tuhan ada dimana?
Apakah Dia ada di kubah emas masjid raksasa?
Ataukah di alunan mantap sound system gereja?
Sayang aku tak pandai menerka.
Yang aku tahu, Tuhanku sederhana.
Kemarin kutemui dia ditengah para kere yang lagi ketawa bersama.

Tuesday, July 1, 2014

Maafkan Aku, Jika Aku Bau

Dik, maafkan jika aku bau
Seharian ini, keringatku dipaksa keluar untuk ditukarkan tiga lembar sepuluh ribu

Dik, maafkan aku, jika aku benar-benar bau
Bukannya aku tak mampu membeli minyak wangi, tapi minyak wangi tak bisa menjadi teman nasi, setahuku.

Dik, masihkah kau mau memelukku jika aku terlalu bau?
Karena sejatinya dipelukmu, adalah obat nyeri paling jitu, saat puyer gratis puskesmas hanya bungkusan tepung terigu

Saturday, March 29, 2014

Ironi Suara Yang Mati

Ha!
Disuruhnya aku mematikan lampu barang satu jam nanti malam.
Disuruhnya aku lebih bijaksana menggunakan sumber daya.
Disuruhnya aku naik bus kemana mana, bahkan jalan kaki sampai telapakku luka.
Disuruhnya aku bersepeda, karena katanya asap motorku melukai angkasa.

Tapi mereka lupa, mereka terpedaya orang orang yg punya kuasa.
Mati suara mereka di depan korporasi.
Mati suara mereka di depan korporasi.

Sunday, March 9, 2014

Kita Adalah Sepi

Aku melihat sepi sebagai kamu
Dan mungkin kamu meliha sepi sebagai aku

Kita sama sama membenamkannya melalui tawa
Dari tengah malam sampai sekarang, kita cuma tertawa
Aku tahu, tawamu yang paling juara sedunia
Tapi aku juga tahu, malam ini, tawamu, tawa kita, tak bernyawa

Aku melihat sepi sebagai kamu
Kamu mungkin juga melihat sepi sebagai aku
Kita terlihat saling menyakiti

Friday, March 7, 2014

Bapak Yang Tak Terlihat

Aku punya bapak yang tak terlihat
Kadang, aku ingin melihat bapak bicara
Bicara ditengah orang banyak, yang kesemuanya memperhatikan
Aku sampai bingung kalau ditanya bapakku kerjanya apa
Aku bilang, beliau orang terkenal, punya kedudukan, punya kekuasaan
Temanku cuma ketawa, mereka tentu tak percaya
Karena tak pernah dilihatnya bapakku oleh mereka

"Pak, keluarlah barang sebentar Pak!
Biar aku bisa pamer kalau aku punya bapak
Kalau bapakku orang terkenal, punya kedudukan, punya kekuasaan
Apa yang Bapak takutkan?
Kalau cuma takut Bapak punya rahasia dibongkar, lawan Pak!
Jangan cuma diam dan tak pernah kelihatan seperti ini
Kalau cuma takut Bapak punya rahasia bakal ketahuan, lawan Pak!
Paling tidak, Bapak sudah terlihat oleh aku punya kawan
Bahwa Bapakku pahlawan, walau pasti kesiangan!"


Untuk Pak Boed

Sunday, February 16, 2014

Ka(senja)ta

Dipalsukan benarmu oleh keadaan
Dikhianati percayamu oleh paksaan
Pejam matamu tak beroleh apa apa
Kencang jeritmu cuman alunan belaka

Tak bisa ya, kita mati saja tapi tak dosa?

Atau, habisi mereka saja. Dengan kata-kata.

Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.