Kartel Naga Merah Muda
Alkisah sebuah kartel triad, dibentuk oleh seorang bernama Ho. Kak Ho, begitu kita biasa memanggilnya. Tak tahu nama lengkapnya. Rumor beredar, beliau tak dilahirkan. Tahu tahu ada. Kalo dilihat fisik, tak ada patut patutnya memimpin sebuah triad. Tapi dia kebal. Kebal segalanya. Kulitnya tebal bagaikan kulit pohon pinus, tinjunya kuat bagai meriam.
Adapun para anak buah Kak Ho adalah
Kak Long. Nama panjangnya Long Bumbung, sesuai dengan body. Di kartel ini, dia mengurusi entertainment. Ketika Kak Ho ingin bersenang senang, Kak Long yg mengusahakan.
Kak Lee. Di kartel ini dia mengurusi bagian fashion daripada Kak Ho. Dibantu oleh Kak Chen, dia memegang semua bisnis sablon di daerah kekuasaan Kak Ho.
Kak Chen. Jika dilihat sekilas berbahaya. Bertatoo sak awak kebak. Tapi hatinya melankolis, terlihat pas gitaran, lagunya mellow semua. Dia mengurusi semua rumah bordil di kawasan Kak Ho. Maklom, dia pemuda sejuta kimcil.
Adik Ming. Mengurusi keuangan kartel. Bagian legal. Tak jarang melakukan praktek suap menyuap pihak berwenang demi kelancaran kartel. Dia pecandu. Pecandu sundukan brutu.
Kak Sang. Teman curhat Kak Ho. Di kartel, dia berperan penting untuk oncek oncek. Ini penting. Siapa tahu ada yang menyusup di kartel ini. Dia akan segera tahu ada penyusup karena keahliannya oncek oncek tak diragukan.
Kak Liu. Bagian media massa. Mengurusi dan mengontrol opini publik yang buruk terhadap Kak Ho. Dikarenakan dia memegang kendali publik, dia ditugasi demikian. Walaupun membuat Kak Ho terlihat bagus itu susah.
Kak Han. Bagian lain lain. Caretaker. Mengurusi segalanya. Mulai dari kurir sampai tukang pukul. Lihatlah badannya, penuh luka sayat, namun susah dibunuh.
Kak Yien. Tangan kanan Kak Ho. Sahabat sekaligus teman setia. Rumor menyebutkan, Kak Yien ini memegang semua rahasia Kak Ho. Untung dia loyal.
Adik Chao. Pemusik sekaligus mata mata dunia luar. Bermusik hanya sebagai kedok. Dikarenakan skill fotografi mumpuni, Adik Chao bertugas mengamati kartel saingan.
Adik Yang. Playboy. Bersama Kak Chen mengurusi rumah bordil dan perkimcilan. Adik Yang fokus di daerah kekuasaan Kak Ho di sebelah kulon.
Adik Qwen. Pemasok "Permen Sugus" dari Eropa. Sebutan kami untuk nar....you know lah. Sedang di PyongYang. Ini menimbulkan kecurigaan oleh Kak Ho. Apakah Qwen ini mata mata triad sebelah? Atau mata mata RPKAD?
Laksamana Yip. Polisi korup yg dibayar oleh Kak Ho untuk melancarkan bisnis haramnya. Mottonya adalah 'ada uang, abang goyang".
Adik Hwan. Mengurusi food and baverage. Penyuplai makanan dan minuman bermutu di daerah kekuasaan Kak Ho. Pemegang rahasia semua anggota triad.
Inilah sekelumit tentang Kartel Naga Merah Muda milik Kak Ho. Jika ingin bergabung, silakan mendatangi markas kami di daerah Hainan.
Tuesday, January 20, 2015
Tuesday, December 30, 2014
9 Penggalan Lirik Lagu Termaut
1. “Sandiwarakah selama ini…”
Ini adalah penggalan lirik baris
pertama dari lagunya Glenn Fredly yg berjudul Akhir Cerita Cinta. Baru baris pertama saja sudah begitu. Saya
gak bisa membayangkan bagaimana galaunya Mas Glenn saat itu.
2. “You’re just like an angel, your
skin makes me cry…”
Kayaknya
hanya orang “gila” yang sanggup menulis bait tersebut. Lebih tepatnya hanya
Thom Yorke yang bisa. Bagaimana kita bisa mengagumi wanita, sampai hanya dengan
memandangi kulitnya saja kita bisa menangis?
3. “Ooh..the wait was so worth it…”
Penggalan ini berasal dari A
Beautiful Mess-nya Jason Mraz. Bagi saya, ini penggalan yg icik ehem sekali.
Menunggu memang membosankan, tetapi
dengan menunggulah kita mendapatkan. Auuuuwwww….
4. “Tear out my heart, feed it to
Lions…”
Salah satu lagu favorit dari Five
For Fighting berjudul Two Lights. Dengarkan saja lagunya. Sealbum sekalian,
dengan judul yg sama. Sarat dengan kritik sosial.
5. “He eo ji ji mothaneun yeoja, tteo
na ga ji mothaneun namja…”
Kalo di translate ke bahasa inggris
menjadi, “The Girl Who Can’t Break Up, The Boy Who Can’t Leave”. Saya baru tahu
kalo Korea Selatan ada duo rap keren bernama Leessang. Saya kira cuma ada
boyband-boyband lenjeh saja.
6. “I've tried so hard to tell
myself that you're gone…”
Dengan suara dari mbak Amy Lee,
lirik ini terdengar menjadi semakin menyakitkan. My Immortal menjadi salah satu
lagu kehilangan yang paling menyedihkan menurut saya.
7. “Fairytales don’t always have a
happy ending, do they?”
Lagu putus ter’teteg’ yg pernah saya
dengarkan. Dinyanykan oleh Fergie, tentunya dari Black Eyed Peas bukan Fergie
yg pelatih sepak bola, Big Girls Don’t Cry menjadi salah satu favorit. Konon
lagu ini tidak masuk album karena tidak cocok dengan tema, tapi tetap di paksa
masuk karena valuenya yg tinggi.
8. “Umpama tanganku dadi suwiwi, iki
uga aku mesti enggal bali…”
Penggalan bait ini bila
diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “apabila tanganku jadi sayap, pasti
aku sudah pulang”. Entah apa memang Didi Kempot menyanyikan lagu ini sepenuh
jiwa atau bagaimana, penggalan lirik ini menjadi mistis. Ada rasa rindu disitu,
ada harapan disitu, ada gombalan juga disitu. Mistis.
9. “Shen Chiayi…..wo shen hua ni………”
Penggalan bait diatas mungkin bukan termasuk
lirik lagu. Namun kata kata tersebut berada di interlude sebuah lagu OST dari
You’re The Apple Of My Eye yg berjudul Those Year. Mengapa menjadi salah satu
favorit saya? Karena bila saya
mendengarkan lagu ini, saya teringat filmnya, begitu juga sebaliknya.
Monday, November 3, 2014
Mengarungi Mimpi Bersama Supernova: Gelombang
“Kell”, ia memperkenalkan diri.
“Alfa”, Aku menyambut jabat tangannya.
Kutipan
diatas Saya ambil dari sebuah novel karya Dewi “Dee” Lestari berjudul
Supernova: Gelombang. Mungkin bagi yang tidak mengikuti seri-seri sebelumnya,
atau yang baru membaca seri terbaru Supernova ini, kutipan diatas tidak berarti
apa apa. Tapi bagi Saya, dan semua yang mengikuti seri Supernova dari tahun
2001, kutipan diatas berarti segalanya. Kutipan diatas seperti palu yang
menghantam Saya keras-keras (dan Saya bersedia dihantam lagi berkali-kali ^^).
Kutipan diatas menggeser paradigma pembaca setianya sejak Supernova: Akar
diterbitkan 12 tahun silam. Bisa dikatakan di seri Gelombang ini, teka-teki
mulai muncul ke permukaan dan mulai terpecahkan. Namun tak sedikit yang beranggapan,
termasuk Saya, bahwa teka-teki baru bermunculan dan siap untuk dipecahkan.
Petualangan sebenarnya baru akan dimulai.
Supernova:
Gelombang menceritakan kehidupan seorang Alfa, tokoh utama dalam novel ini,
dari dia kecil waktu di kampung halamannya sampai perjalanan dia dalam
pencarian, dari Amerika Serikat sampai Tibet. Dalam novel ini Dee berkosentrasi
kepada Alfa sama seperti saat di Supernova: Akar berkonsentrasi kepada Bodhi,
Supernova: Petir berkonsentrasi kepada Elektra, Supernova: Partikel berkonsentrasi
kepada Zarah. Seperti halnya seri-seri Supernova sebelumnya, Dee membawa kita
bertualang. Ya! Bagi saya, membaca Supernova adalah bertualang. Melakukan
perjalanan. Gelombang berawal dari Alfa dan kampung halamannya, Sianjur Mula
Mula. Di bagian Sianjur Mula Mula ini, Dee menyisipkan sedikit komedi.
Bagaimana tidak, pembaca dibuat bingung dengan penamaan tokoh utama di novel
ini. Seperti yang Saya dan mungkin pembaca setia Supernova tahu, tokoh utama di
seri Gelombang adalah Alfa. Lalu, siapa pula itu Ichon? Saya sempat kaget dan
bingung dengan ini. Malah saya pikir Alfa dan Ichon adalah orang yang berbeda.
Lalu terungkaplah komedi besar ini. Dengan tersangka utama Ayah dari Alfa yang typo saat menulis nama anaknya. Niatnya
mau menamai seperti penemu bola lampu pijar, Thomas Alva Edison, “Alva” disini
berubah menjadi “Alfa”. Ya, Thomas Alfa Edison, kemudian dipanggil Ichon. Bagi masyarakat
Batak memang biasa menamakan anaknya dengan nama yang bukan lagi unik,
melainkan ajaib. Saya pernah mendapat cerita dari seorang teman yang berasal
dari tanah Batak, bahwa dia punya om yang namanya Pulpen. Dan marganya Purba.
Pulpen Purba. Well, tidak usah sampai membayangkan dinosaurus yang sedang tanda
tangan.
Seperti yang sudah Saya
bilang sebelumnya, Gelombang adalah tentang perjalanan dan petualangan. Alfa
dan keluarganya pindah dari Sianjur Mula Mula menuju Jakarta. Dee tak
menceritakan banyak tentang Alfa yang ada di Jakarta. Singkat kata, Alfa
kembali bertualang menuju Amerika Serikat. Di sinilah Alfa berproses, dari
mulai kuliah, bekerja sambilan, sampai akhirnya bekerja di salah satu firma di
Wall Street. Di Amerika Serikat pula Alfa merasakan ada yang aneh, ada yang
spesial dalam tidurnya, dalam mimpinya, setelah dia akhirnya bertemu dengan
dokter yang menangani masalah gangguan tidur. Ternyata masalah Alfa adalah
bukan pada tidurnya, melainkan pada pada mimpinya. Nah, bagi Anda yang pernah
menonton film garapan Christopher Nolan berjudul “Inception” dan
menyukainya, Anda juga bakalan menyukai perjalanan Alfa menemukan dirinya
sendiri melalui alam mimpi ini.
Menurut saya buku ini layak untuk dibaca. Alangkah baiknya juga membaca
seri-seri Supernova sebelumnya agar tidak terlalu banyak pertanyaan di benak
anda. Siapa itu Bintang Jatuh, siapa itu Gio, siapa itu Isthar, siapa itu Kell.
Atau bagi yang tertarik silakan membaca semua seri Supernova ini sebelum semua
serinya dibikin film. Kenapa? Selami dahulu semua seri Supernova, lalu bandingkan
dengan filmnya yang rilis 11 Desember kemarin. Anda akan tahu jawabannya. J
Sunday, September 28, 2014
Entah Serigala, Entah Asu
Entah serigala entah asu
Mereka berkumpul sekitarku
Dari malam tadi hingga sekarang hampir pagi
Entah serigala entah asu
Kupandang satu satu
Kupandang juga diriku
Entah serigala entah asu
Thursday, September 11, 2014
Kau Mengejar, Aku Menunggu
Dua
tiket kereta sore sudah ditangan
Lambai
tangan dan muka kusutmu menyambut di peron paling ujung
Mengapa
telat, kata pertamamu. Sudah menunggu setengah jam dan hampir mati bosan,
lanjutmu
Sebenarnya,
kalau perkara tunggu menunggu ini mau diadu, kita berdua tahu siapa yang keluar
sebagai pemenangnya, kan?
Perjalanan
kereta sore hari memang paling enak dipandang
Walaupun
agak rusak oleh isakmu yang turun naik di kuping kiriku
Ceritamu
tentang kekasih yang lalu memang tak pernah habis keluar dari bibirmu
Kau selalu
muluk jika bicara tentang cinta
Cinta itu
beda dengan drama
Yang kau
dapat darinya cuma drama
Itulah alasan
kenapa kita ada di kereta sore ini
Aku
menemanimu mengejar drama
Berlarilah,
berlarilah sekencangmu. Jika sudah lelah, balikan badanmu, aku ada disitu.
Monday, September 8, 2014
Tuhan Para Kere
Ada yang tahu, Tuhan ada dimana?
Apakah Dia ada di kubah emas masjid raksasa?
Ataukah di alunan mantap sound system gereja?
Sayang aku tak pandai menerka.
Yang aku tahu, Tuhanku sederhana.
Kemarin kutemui dia ditengah para kere yang lagi ketawa bersama.
Apakah Dia ada di kubah emas masjid raksasa?
Ataukah di alunan mantap sound system gereja?
Sayang aku tak pandai menerka.
Yang aku tahu, Tuhanku sederhana.
Kemarin kutemui dia ditengah para kere yang lagi ketawa bersama.
Tuesday, July 1, 2014
Maafkan Aku, Jika Aku Bau
Dik, maafkan jika aku bau
Seharian ini, keringatku dipaksa keluar untuk ditukarkan tiga lembar sepuluh ribu
Dik, maafkan aku, jika aku benar-benar bau
Bukannya aku tak mampu membeli minyak wangi, tapi minyak wangi tak bisa menjadi teman nasi, setahuku.
Dik, masihkah kau mau memelukku jika aku terlalu bau?
Karena sejatinya dipelukmu, adalah obat nyeri paling jitu, saat puyer gratis puskesmas hanya bungkusan tepung terigu
Seharian ini, keringatku dipaksa keluar untuk ditukarkan tiga lembar sepuluh ribu
Dik, maafkan aku, jika aku benar-benar bau
Bukannya aku tak mampu membeli minyak wangi, tapi minyak wangi tak bisa menjadi teman nasi, setahuku.
Dik, masihkah kau mau memelukku jika aku terlalu bau?
Karena sejatinya dipelukmu, adalah obat nyeri paling jitu, saat puyer gratis puskesmas hanya bungkusan tepung terigu
Subscribe to:
Posts (Atom)