Monday, January 5, 2026

Nomor Satu

Hari ini kamu tidak disini
Tidak tahu besok, lusa, atau selamanya

Suaramu terdengar jelas di ruang sunyi busuk yang kubangun dari beton tebal bernama keras kepala
Sebuah ruang yang kukira pertahanan

Kamu membukanya pintunya perlahan, masuk dengan santun lalu duduk dipojokan yang menurutmu nyaman
Mengatur nafas dengan lembut dan mengirim sinyal aman padaku:
Aku menembus pertahananmu

Ruang sunyi busuk yang kukira benteng itu kamu tembus perlahan dengan cinta
Yang dengan bodohnya masih belum aku terima

Rasa yang kau bawa menembus batas pertahanan yang pernah pongah kubuat

Kemarin, saat kau masih disini
Tidak tahu besok, lusa, atau selamanya


Januari, 2026

Sunday, June 15, 2025

Seseorang Memulai Awal, Semua Orang Menangisi Akhir

Memang sepertinya kita akan berjalan menuju sebuah ruang. 
Ruang-ruang hampa yang disiapkan Tuhan di hati masing-masing kita memang harus dinyalakan.
Melihatmu pergi berjalan sendiri, memantik ruang hampa itu menjadi dingin. 

Sangat dingin. 

Sehingga saking dinginnya, kita tidak punya waktu lagi untuk menahan apapun.

Ruang tersebut sudah disiapkan Sang Pencipta untuk diisi orang-orang yang pernah kita sayangi. Ia akan mengisi ruang sunyi dingin tersebut dengan memori sampai nanti.

Tangis kita pecah.
Hangatnya air mata tidak akan pernah cukup untuk mengubah temperatur ruang tersebut.
Ia akan tetap dingin, sunyi, kedap udara, dan segala bentuk tidak enak lainnya. 

Namun aku rasa, kita patut bersyukur Tuhan membangun ruang itu di masing-masing kita. Ruang yang dingin, sunyi, dan kedap udara tersebut dapat kita isi dengan orang-orang yang kita cintai.

Lengkap dengan senyum, tawa, suara
Bercandamu yang aneh, pola pikirmu yang kadang tidak bisa kita pahami. 
Debat debat tidak penting yang hanya akan menghabiskan malam dengan sia-sia.
Lagu-lagu favorit yang sering kau nyanyikan dengan suara seadanya.

Tuhan sengaja menciptakan ruang di hati kita masing-masing. Untuk menyimpan semua tentangmu. Utuh. 


Thursday, January 4, 2024

Lelaki Ibu

Aku melihatnya sebagai semangat
Seperti angin yang menghembus takdir
yang telah lama ditetapkan

Aku mengamatinya sebagai kuat
Seperti langit yang terus lapang
digelar siang dan malam berulang kali

Aku memeluknya sebagai tegar
Seperti sayap bangau
yang sekali setahun bermigrasi

Lalu apakah aku?

Aku hanya anak lelakinya yang tak tahu malu
Dan hampir menyerah

Tuhan,
Apakah aku adalah durhaka paling sempurna
Yang pernah keluar dari rahimnya?



*note: teruntuk teman yang teramat kuat merawat ibunya


Monday, December 25, 2023

Minggu Sore Di Pasar Buah

Minggu sore adalah waktunya membeli buah
Dan waktuku menemani kebingungannya

•••

Perkara apel saja harus yang tidak terlalu masak
80% menuju masak katamu
Karena yang terlalu masak itu mengandung zat tertentu yang tidak terlalu baik untuk kesehatan

Belum lagi pisang
Harus yang jenis tertentu
Kalau yang ini harus masak betul
Sampai-sampai sudah banyak noda hitam dikulitnya
Itu juga mengandung zat tertentu yang justru baik untuk kesehatan, katamu lagi

Menemanimu membeli buah pada Minggu sore adalah rutinitas yang sudah berlangsung sekian lama
Melihatmu marah-marah, bingung sendiri tak jelas, sedih karena tak mendapatkan yang kau mau dan beberapa bentuk perasaan kecewamu yang tak bisa kau tutupi itu

Aku hanya hadir dan menggenapi semua kisah pencarian buahmu
Tanpa aku bisa bersuara dan memberikan pendapat

Kadang kala ingin rasanya aku memberitahumu bahwa:
Apel itu tetap enak walaupun masak!
Atau:
Semua pisang itu menyegarkan apapun itu jenisnya!

Bahkan ingin pula rasanya aku berteriak di depan matamu bahwa:
Yang kau butuhkan bukan buah!

•••

Sangat menyebalkan jika kau mengetahui orang yang kau sayang selalu salah dalam memilih buah
Dan kau masih saja menemaninya setiap Minggu sore memilih kebingungannya

Dan yang lebih menyebalkan lagi:
Ini bukan perkara buah


Sunday, December 24, 2023

Daftar Acara

Malam tadi, matamu bulan
Ditutupi kabut yang kubuat sendiri
Kata-katamu dingin malam
Yang kupersilakan tampil walau tidak ada di daftar acara

Sembari duduk dipinggiran doa
Aku sibuk menerka prasangkaku sendiri
Apakah ini babak awal sebuah luka?

Yang lagi-lagi kupersilakan tampil walau tidak ada di daftar acara


Friday, December 22, 2023

Monokromasi

Merangkaimu dengan lukisan tidaklah mudah
Aku harus menyesuaikan bentuk dan warna
Sesuai keegoisanku, dan se-defensif keegoisanmu

Satu-satu warna kupilih
Kuletakkan pelan-pelan diatas canvas keyakinan
yang semakin hari semakin pudar

Namun,

Rangkaian ini tetap akan kulukis
Dengan kuas doa dan tinta harap

Seiring pendar pukul lima, aku melukis wajahmu
Dengan tinta warna warni

Walaupun aku tahu betul, aku buta warna


Thursday, December 21, 2023

Tatap Muak

Aku mencoba melukis matamu sebagai nadi di dalam pembuluh kata-kataku

Aku melukis dengan kuas doa dan tinta harap

Ternyata hasilnya kotor, menjijikkan dan membuatku muak


Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.