Dipalsukan benarmu oleh keadaan
Dikhianati percayamu oleh paksaan
Pejam matamu tak beroleh apa apa
Kencang jeritmu cuman alunan belaka
Tak bisa ya, kita mati saja tapi tak dosa?
Atau, habisi mereka saja. Dengan kata-kata.
Sunday, February 16, 2014
Thursday, January 30, 2014
Pada Sebuah Pulang
Aku dandelion penyelam awang awang
Terbangku di kisahkan udara, melayangku dituturkan tiupan
Kemanaku, dibawa pergi kerelaan
Aku remah elektrik penyelam awang awang
Getarku di ejawantah langit malam, dipelihara auman kacangan penyair dadakan
Kemanaku, mengembara berasama harapan
Pada sebuah pulang
Dikalungkan nuansa nuansi kerinduan
Kapan kita benar benar pulang?
Terbangku di kisahkan udara, melayangku dituturkan tiupan
Kemanaku, dibawa pergi kerelaan
Aku remah elektrik penyelam awang awang
Getarku di ejawantah langit malam, dipelihara auman kacangan penyair dadakan
Kemanaku, mengembara berasama harapan
Pada sebuah pulang
Dikalungkan nuansa nuansi kerinduan
Kapan kita benar benar pulang?
Friday, January 24, 2014
Tak Lebih Tinggi Derajatmu Dari Kera dan Lumba-lumba
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika topeng monyet di lampu merah diberantas atas nama perlindungan
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika sirip hiu, yg dijadikan sup sup dan dinikmati orang kaya itu, dilarang dalam nama perlindungan
Atau,
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika lumba-lumba dilarang bersirkus di daerah daerah, yang dinantikan anak-anak kampung,
untuk dilihat secara langsung, sekali seumur hidup, sekali lagi, atas nama perlindungan.
Lalu,
Masih pedulikah kalian akan nasib bapaknya si Fajar?
Yang menghilang, gara gara terlalu lantang ia menyuarakan kebenaran.
Masih ingatkah kalian bahwa pernah ada kejadian di desa yg bernama Cikeusik?
Dimana atas nama Tuhan, mereka menyiksa sesamanya yang berbeda, sambil teriak teriak dan tertawa.
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika kemanusian, dijadikan opsi kedua pencitraan.
Ketika topeng monyet di lampu merah diberantas atas nama perlindungan
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika sirip hiu, yg dijadikan sup sup dan dinikmati orang kaya itu, dilarang dalam nama perlindungan
Atau,
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika lumba-lumba dilarang bersirkus di daerah daerah, yang dinantikan anak-anak kampung,
untuk dilihat secara langsung, sekali seumur hidup, sekali lagi, atas nama perlindungan.
Lalu,
Masih pedulikah kalian akan nasib bapaknya si Fajar?
Yang menghilang, gara gara terlalu lantang ia menyuarakan kebenaran.
Masih ingatkah kalian bahwa pernah ada kejadian di desa yg bernama Cikeusik?
Dimana atas nama Tuhan, mereka menyiksa sesamanya yang berbeda, sambil teriak teriak dan tertawa.
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika kemanusian, dijadikan opsi kedua pencitraan.
Thursday, August 1, 2013
Tertawalah, Cinta!
Bolehkah aku menikahi tawamu? Karena cinta yang tertawa, adalah segalanya.
*Special to Ji Hyo. Tawamu, tak ada yang mengalahkan.
Titik Dua, Kurung Buka
Sayang, jika terpaksa engkau menangis karenaku, menangislah dengan bersuara.
Karena tangisan tanpa suara, adalah keadaan yang seharusnya tak pernah ada.
Kita Sama Sama Bersedia Bodoh
Duduk berdua denganmu, 30 menit, dan kamu tidak disitu. Kamu bersama dengan dia yg meninggalkanmu. Ternyata kita berdua sama sama bodoh ya?
Kamu menunggu dia yg meninggaalkanmu, aku menunggu kamu yg bahkan tak tahu nama belakangku.
Aku memang sebodoh keledai yg jatuh di lubang sama dua kali. Tapi jika di lubang itulah kamu ada, biarkan aku jatuh disitu jutaan kali lagi.
Lima Detik Saja Cukup
Sisakan senyummu padaku nanti malam.
Sedikit saja. Sisakan itu untukku, agar aku tahu aku masih milikmu.
Tak perlu banyak2.
Hanya sedikit sungging senyummu.
Lima detik saja cukup.
Karena mataku mudah percaya akan apa yg dilihatnya.
Telingaku juga percaya apapun yg didengarnya.
Lalu, biar kuberitahu hatiku untuk pura2 tidak tahu, bahwa kau tak pernah bersamaku, sejak pertama kau beri senyum semu itu padaku.
Subscribe to:
Posts (Atom)