Tuesday, July 1, 2014

Maafkan Aku, Jika Aku Bau

Dik, maafkan jika aku bau
Seharian ini, keringatku dipaksa keluar untuk ditukarkan tiga lembar sepuluh ribu

Dik, maafkan aku, jika aku benar-benar bau
Bukannya aku tak mampu membeli minyak wangi, tapi minyak wangi tak bisa menjadi teman nasi, setahuku.

Dik, masihkah kau mau memelukku jika aku terlalu bau?
Karena sejatinya dipelukmu, adalah obat nyeri paling jitu, saat puyer gratis puskesmas hanya bungkusan tepung terigu

Saturday, March 29, 2014

Ironi Suara Yang Mati

Ha!
Disuruhnya aku mematikan lampu barang satu jam nanti malam.
Disuruhnya aku lebih bijaksana menggunakan sumber daya.
Disuruhnya aku naik bus kemana mana, bahkan jalan kaki sampai telapakku luka.
Disuruhnya aku bersepeda, karena katanya asap motorku melukai angkasa.

Tapi mereka lupa, mereka terpedaya orang orang yg punya kuasa.
Mati suara mereka di depan korporasi.
Mati suara mereka di depan korporasi.

Sunday, March 9, 2014

Kita Adalah Sepi

Aku melihat sepi sebagai kamu
Dan mungkin kamu meliha sepi sebagai aku

Kita sama sama membenamkannya melalui tawa
Dari tengah malam sampai sekarang, kita cuma tertawa
Aku tahu, tawamu yang paling juara sedunia
Tapi aku juga tahu, malam ini, tawamu, tawa kita, tak bernyawa

Aku melihat sepi sebagai kamu
Kamu mungkin juga melihat sepi sebagai aku
Kita terlihat saling menyakiti

Friday, March 7, 2014

Bapak Yang Tak Terlihat

Aku punya bapak yang tak terlihat
Kadang, aku ingin melihat bapak bicara
Bicara ditengah orang banyak, yang kesemuanya memperhatikan
Aku sampai bingung kalau ditanya bapakku kerjanya apa
Aku bilang, beliau orang terkenal, punya kedudukan, punya kekuasaan
Temanku cuma ketawa, mereka tentu tak percaya
Karena tak pernah dilihatnya bapakku oleh mereka

"Pak, keluarlah barang sebentar Pak!
Biar aku bisa pamer kalau aku punya bapak
Kalau bapakku orang terkenal, punya kedudukan, punya kekuasaan
Apa yang Bapak takutkan?
Kalau cuma takut Bapak punya rahasia dibongkar, lawan Pak!
Jangan cuma diam dan tak pernah kelihatan seperti ini
Kalau cuma takut Bapak punya rahasia bakal ketahuan, lawan Pak!
Paling tidak, Bapak sudah terlihat oleh aku punya kawan
Bahwa Bapakku pahlawan, walau pasti kesiangan!"


Untuk Pak Boed

Sunday, February 16, 2014

Ka(senja)ta

Dipalsukan benarmu oleh keadaan
Dikhianati percayamu oleh paksaan
Pejam matamu tak beroleh apa apa
Kencang jeritmu cuman alunan belaka

Tak bisa ya, kita mati saja tapi tak dosa?

Atau, habisi mereka saja. Dengan kata-kata.

Thursday, January 30, 2014

Pada Sebuah Pulang

Aku dandelion penyelam awang awang
Terbangku di kisahkan udara, melayangku dituturkan tiupan
Kemanaku, dibawa pergi kerelaan

Aku remah elektrik penyelam awang awang
Getarku di ejawantah langit malam, dipelihara auman kacangan penyair dadakan
Kemanaku, mengembara berasama harapan

Pada sebuah pulang
Dikalungkan nuansa nuansi kerinduan
Kapan kita benar benar pulang?

Friday, January 24, 2014

Tak Lebih Tinggi Derajatmu Dari Kera dan Lumba-lumba

Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika topeng monyet di lampu merah diberantas atas nama perlindungan

Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika sirip hiu, yg dijadikan sup sup dan dinikmati orang kaya itu, dilarang dalam nama perlindungan

Atau,
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika lumba-lumba dilarang bersirkus di daerah daerah, yang dinantikan anak-anak kampung,
untuk dilihat secara langsung, sekali seumur hidup, sekali lagi, atas nama perlindungan.

Lalu,
Masih pedulikah kalian akan nasib bapaknya si Fajar?
Yang menghilang, gara gara terlalu lantang ia menyuarakan kebenaran.

Masih ingatkah kalian bahwa pernah ada kejadian di desa yg bernama Cikeusik?
Dimana atas nama Tuhan, mereka menyiksa sesamanya yang berbeda, sambil teriak teriak dan tertawa.

Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika kemanusian, dijadikan opsi kedua pencitraan.

Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.