Dik, maafkan jika aku bau
Seharian ini, keringatku dipaksa keluar untuk ditukarkan tiga lembar sepuluh ribu
Dik, maafkan aku, jika aku benar-benar bau
Bukannya aku tak mampu membeli minyak wangi, tapi minyak wangi tak bisa menjadi teman nasi, setahuku.
Dik, masihkah kau mau memelukku jika aku terlalu bau?
Karena sejatinya dipelukmu, adalah obat nyeri paling jitu, saat puyer gratis puskesmas hanya bungkusan tepung terigu
Tuesday, July 1, 2014
Saturday, March 29, 2014
Ironi Suara Yang Mati
Ha!
Disuruhnya aku mematikan lampu barang satu jam nanti malam.
Disuruhnya aku lebih bijaksana menggunakan sumber daya.
Disuruhnya aku naik bus kemana mana, bahkan jalan kaki sampai telapakku luka.
Disuruhnya aku bersepeda, karena katanya asap motorku melukai angkasa.
Tapi mereka lupa, mereka terpedaya orang orang yg punya kuasa.
Mati suara mereka di depan korporasi.
Mati suara mereka di depan korporasi.
Disuruhnya aku mematikan lampu barang satu jam nanti malam.
Disuruhnya aku lebih bijaksana menggunakan sumber daya.
Disuruhnya aku naik bus kemana mana, bahkan jalan kaki sampai telapakku luka.
Disuruhnya aku bersepeda, karena katanya asap motorku melukai angkasa.
Tapi mereka lupa, mereka terpedaya orang orang yg punya kuasa.
Mati suara mereka di depan korporasi.
Mati suara mereka di depan korporasi.
Sunday, March 9, 2014
Kita Adalah Sepi
Aku melihat sepi sebagai kamu
Dan mungkin kamu meliha sepi sebagai aku
Kita sama sama membenamkannya melalui tawa
Dari tengah malam sampai sekarang, kita cuma tertawa
Aku tahu, tawamu yang paling juara sedunia
Tapi aku juga tahu, malam ini, tawamu, tawa kita, tak bernyawa
Aku melihat sepi sebagai kamu
Kamu mungkin juga melihat sepi sebagai aku
Kita terlihat saling menyakiti
Dan mungkin kamu meliha sepi sebagai aku
Kita sama sama membenamkannya melalui tawa
Dari tengah malam sampai sekarang, kita cuma tertawa
Aku tahu, tawamu yang paling juara sedunia
Tapi aku juga tahu, malam ini, tawamu, tawa kita, tak bernyawa
Aku melihat sepi sebagai kamu
Kamu mungkin juga melihat sepi sebagai aku
Kita terlihat saling menyakiti
Friday, March 7, 2014
Bapak Yang Tak Terlihat
Aku punya bapak yang tak terlihat
Kadang, aku ingin melihat bapak bicara
Bicara ditengah orang banyak, yang kesemuanya memperhatikan
Aku sampai bingung kalau ditanya bapakku kerjanya apa
Aku bilang, beliau orang terkenal, punya kedudukan, punya kekuasaan
Temanku cuma ketawa, mereka tentu tak percaya
Karena tak pernah dilihatnya bapakku oleh mereka
"Pak, keluarlah barang sebentar Pak!
Biar aku bisa pamer kalau aku punya bapak
Kalau bapakku orang terkenal, punya kedudukan, punya kekuasaan
Apa yang Bapak takutkan?
Kalau cuma takut Bapak punya rahasia dibongkar, lawan Pak!
Jangan cuma diam dan tak pernah kelihatan seperti ini
Kalau cuma takut Bapak punya rahasia bakal ketahuan, lawan Pak!
Paling tidak, Bapak sudah terlihat oleh aku punya kawan
Bahwa Bapakku pahlawan, walau pasti kesiangan!"
Untuk Pak Boed
Sunday, February 16, 2014
Ka(senja)ta
Dipalsukan benarmu oleh keadaan
Dikhianati percayamu oleh paksaan
Pejam matamu tak beroleh apa apa
Kencang jeritmu cuman alunan belaka
Tak bisa ya, kita mati saja tapi tak dosa?
Atau, habisi mereka saja. Dengan kata-kata.
Dikhianati percayamu oleh paksaan
Pejam matamu tak beroleh apa apa
Kencang jeritmu cuman alunan belaka
Tak bisa ya, kita mati saja tapi tak dosa?
Atau, habisi mereka saja. Dengan kata-kata.
Thursday, January 30, 2014
Pada Sebuah Pulang
Aku dandelion penyelam awang awang
Terbangku di kisahkan udara, melayangku dituturkan tiupan
Kemanaku, dibawa pergi kerelaan
Aku remah elektrik penyelam awang awang
Getarku di ejawantah langit malam, dipelihara auman kacangan penyair dadakan
Kemanaku, mengembara berasama harapan
Pada sebuah pulang
Dikalungkan nuansa nuansi kerinduan
Kapan kita benar benar pulang?
Terbangku di kisahkan udara, melayangku dituturkan tiupan
Kemanaku, dibawa pergi kerelaan
Aku remah elektrik penyelam awang awang
Getarku di ejawantah langit malam, dipelihara auman kacangan penyair dadakan
Kemanaku, mengembara berasama harapan
Pada sebuah pulang
Dikalungkan nuansa nuansi kerinduan
Kapan kita benar benar pulang?
Friday, January 24, 2014
Tak Lebih Tinggi Derajatmu Dari Kera dan Lumba-lumba
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika topeng monyet di lampu merah diberantas atas nama perlindungan
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika sirip hiu, yg dijadikan sup sup dan dinikmati orang kaya itu, dilarang dalam nama perlindungan
Atau,
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika lumba-lumba dilarang bersirkus di daerah daerah, yang dinantikan anak-anak kampung,
untuk dilihat secara langsung, sekali seumur hidup, sekali lagi, atas nama perlindungan.
Lalu,
Masih pedulikah kalian akan nasib bapaknya si Fajar?
Yang menghilang, gara gara terlalu lantang ia menyuarakan kebenaran.
Masih ingatkah kalian bahwa pernah ada kejadian di desa yg bernama Cikeusik?
Dimana atas nama Tuhan, mereka menyiksa sesamanya yang berbeda, sambil teriak teriak dan tertawa.
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika kemanusian, dijadikan opsi kedua pencitraan.
Ketika topeng monyet di lampu merah diberantas atas nama perlindungan
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika sirip hiu, yg dijadikan sup sup dan dinikmati orang kaya itu, dilarang dalam nama perlindungan
Atau,
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika lumba-lumba dilarang bersirkus di daerah daerah, yang dinantikan anak-anak kampung,
untuk dilihat secara langsung, sekali seumur hidup, sekali lagi, atas nama perlindungan.
Lalu,
Masih pedulikah kalian akan nasib bapaknya si Fajar?
Yang menghilang, gara gara terlalu lantang ia menyuarakan kebenaran.
Masih ingatkah kalian bahwa pernah ada kejadian di desa yg bernama Cikeusik?
Dimana atas nama Tuhan, mereka menyiksa sesamanya yang berbeda, sambil teriak teriak dan tertawa.
Tak lebih tinggi derajatmu dari kera dan lumba-lumba
Ketika kemanusian, dijadikan opsi kedua pencitraan.
Subscribe to:
Posts (Atom)