Thursday, May 17, 2018

Subuh Bersamamu

Jika subuh benar-benar jatuh karena senyummu
Biarkan aku lebur dengan teduhnya

Selamanya

Selamanya

Selamanya, aku akan jatuh padamu


Wednesday, May 16, 2018

Baju Sahabat

Sahabatku,
Bolehkah aku meminjam bajumu sebentar?
Bolehkah aku mengenakannya sembari mematut matut di hadap langit?

Seperti halnya kau memakai bajuku kemarin, bolehkah aku memakai bajumu dan kupamerkan pada orang orang dan menunjukkan bahwa bajumu juga sebagus bajuku?

Sahabatku,
Maafkan temanku-temanku jika menganggap bajumu tak sebagus baju mereka.
Aku berjanji akan mengatakan pada mereka bahwa tak ada baju yg lebih bagus satu dari yang lainnya.

Sahabatku,
Terimakasih telah membela bahkan mematut bajuku yang kadang bolong di kanan kiri. Aku berjanji, aku akan menambalnya dengan kain kain pengetahuan dan kedewasaan.

Dan percayalah Sahabatku,
Baju kita sama sama bagus.


Sunday, February 11, 2018

Tiga Yang Satu-Satunya

Dan duniaku adalah dengan tiga matahari
Dipanggangnya sampai habis aku punya air mata
Kupeluk yang tiga itu satu-satu

Maaf, aku belum bisa tandingi sinarmu...
Maaf, aku belum bisa tandingi sinarmu...
Maaf, aku belum bisa tandingi sinarmu...


Wednesday, January 31, 2018

Menyebalkan

Aku ingin memelukmu dimana mana
Hingga semua orang yang melihatnya merasa sebal


Tuesday, January 30, 2018

Kitakah Di Ujung Subuh Itu?

Dan kita perihal luka yang tak kunjung sia-sia
Perihal dingin yang tak disegerakan kata-kata
Perihal genggam yang tak juga dihampiri iringan

Dan kita masih Subuh yang mengalun pelan lalu hilang.


Friday, January 12, 2018

Aku Lebih Suka Kau Daripada Kopi

Pernah aku engkau seduhkan kopi
Pahitnya dari kenanganmu
Manisnya dari cemburuku
Kau menyajikannya dengan khusyuk
Aku menghirupnya dengan tekun

Aku yang tak suka kopi, meminumnya dengan teliti
Mau bagaimana lagi,
Kau menemaniku ngopi sambil berkata:
"Mas, kopi ini kuseduh dengan air mata..."


Tuesday, November 28, 2017

Bekas Luka

Kau pernah bilang bahwa aku seperti penghapus.
Kau butuh aku untuk hapus itu semua masa lalumu.

Kubilang, masa lalu seperti bekas luka. Dia tak akan pernah bisa hilang. Pernah kau lihat, bekas luka hilang? Dihapus?

Sekali lagi, Sayang, yang pernah datang tak akan benar-benar bisa dilupakan.


Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.