Thursday, December 21, 2023

Tatap Muak

Aku mencoba melukis matamu sebagai nadi di dalam pembuluh kata-kataku

Aku melukis dengan kuas doa dan tinta harap

Ternyata hasilnya kotor, menjijikkan dan membuatku muak


Friday, December 15, 2023

Rengkuh

Aku pernah memelukmu

Memasukkan semua unsur tubuhmu kedalam

tubuhku dalam sekali rengkuh


Tidak menyisakan sedikitpun spasi

Dalam peluk kusyuk dan panjang ini


Aku pernah memelukmu

Menahanmu untuk susah bernafas karena terlalu

erat tubuh kita saling berpagut


Tak meyisakan sedikitpun detik

Karena kita sama sama tahu

Ini tak akan berlangsung selamanya


Aku pernah memelukmu sekali rengkuh

Mencintaimu sekali jadi


Hingga aku harus mendefinisikan ulang peluk

Karena kau tak ada lagi

Thursday, December 30, 2021

Desiderium

Aku menulis penyesalan

Kata per kata, kalimat per kalimat, rasa per rasa

Yang masih sama seperti bilangan tahun kali pertama


Aku menulis penyesalan

Dialamatkan kepada yang katanya tahu semua

Bahwa kepalaku terlalu besar untuk dimahkotai senyummu


Aku menulis penyesalan

Kepada jauh yang bukan jarak

Yang seharusnya bisa ditempuh dua atau tiga masa


Aku menulis penyesalan


Maaf,

Aku tak terlalu keras mengejarmu

Saturday, October 24, 2020

Adu Rindu

Wong ini cinta, Cah Ayu.
Ndak buat diadu, ndak.

Jangan seakan-akan kalau aku ndak bilang rindu, itu berarti aku ndak cinta, ndak.

Yang bagian tanya udah makan apa belum, kemarin pulang jam berapa, vitaminnya udah diminum belum, itu bagianmu saja.

Bagianku, tak yang ndak sering-sering bilang rindu, tapi kalau kamu ndak kasih kabar setengah hari saja, pingin itu tak gigit trotoar depan rumah.

Wong ini tuh cinta, Cah Ayu.
Cintaku ini kuat, kayak Mike Tyson.
Kamu ndak akan menang, ndak.


Friday, October 9, 2020

Aku Melukismu

Aku memikirkanmu saat sedang melukis kebebasan
Aku langit dan kau elang

Matanya, matamu ketika sedang cemburu


Monday, July 20, 2020

Ima

Aku tak tahu,
mengapa sungguh susah payah menemukanmu akhir-akhir ini.
Dua tiga putaran terakhir menjadi yang paling susah untuk kita  masing-masing sadar.
Pun saat ini, sekarang.
Putaran yang seakan menjadi pusaran ini sepertinya menjadi yang terberat dalam menemukan,
namun menjadi yang terkuat dalam keyakinan.

Tak bisa sajakah kita sama-sama erat dalam waktu yang tak terbatas tanpa terjebak dalam hitungan bilangan?

Sebentar, biarkan aku memancingmu dengan sajak:
"Wajahku sungai, didalamnya mengalir air mata. Sedang kau malam, di dalamnya mengalun kerelaan."

Kekasih, tak ingatkah kau?


Thursday, July 9, 2020

Kau Adalah Puisi Yang Tak Akan Pernah Tuntas

Pagi ini aku menuntaskanmu dalam sebuah puisi, Cah Ayu.
Maaf aku melibatkanmu dalam banyak hal.

Kupikir, rasa kosong yang belum kau isi ini hanya metafor yang biasa dipakai penulis dalam sastranya.
Tapi pagi ini aku merasakannya, Cah Ayu.
Dadaku sakit namun tak seperti nyeri.
Sakitnya seperti kurang, seperti tak utuh saja rasanya.
Mataku juga panas, namun tak keluar apa-apa.

Maaf Cah Ayu, aku telah melibatkanmu dalam banyak hal.

Kupikir aku bisa menari dengan rasa yang kubuat ini sendiri.
Tapi ternyata tidak, aku tetap membutuhkanmu pagi ini.
Tanyaku pada diriku sendiri dari tadi hanya satu, Cah Ayu.
Salahkah aku?
Salahkah aku jika sampai nanti setiap pagi aku mencintaimu?
Dan sorenya juga?

Pagi ini aku menuntaskanmu dalam puisi sekali jadi.
Sialnya, puisi ini tak akan pernah bisa tuntas jika kau adalah nyawanya.

Cah Ayu, maafkan aku jika akan selalu melibatkanmu dalam segala hal.


Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.