Friday, January 12, 2018

Aku Lebih Suka Kau Daripada Kopi

Pernah aku engkau seduhkan kopi
Pahitnya dari kenanganmu
Manisnya dari cemburuku
Kau menyajikannya dengan khusyuk
Aku menghirupnya dengan tekun

Aku yang tak suka kopi, meminumnya dengan teliti
Mau bagaimana lagi,
Kau menemaniku ngopi sambil berkata:
"Mas, kopi ini kuseduh dengan air mata..."


Tuesday, November 28, 2017

Bekas Luka

Kau pernah bilang bahwa aku seperti penghapus.
Kau butuh aku untuk hapus itu semua masa lalumu.

Kubilang, masa lalu seperti bekas luka. Dia tak akan pernah bisa hilang. Pernah kau lihat, bekas luka hilang? Dihapus?

Sekali lagi, Sayang, yang pernah datang tak akan benar-benar bisa dilupakan.


Sunday, November 12, 2017

Apakah Tuhan Buta Nada?

Jika memang benar katamu, bahwa Tuhan tak bernada
Lalu siapa yang mencipta merdu di dalam senyummu?

Jika memang benar katamu, bahwa Tuhan buta nada
Sebuta apakah Dia, hingga mencipta rindu di diammu


Monday, September 11, 2017

Sepakatkah Kita

Aku melihat sepasang sejoli malam tadi

Yang lelaki adalah api
Yang perempuan adalah sorot mata

Mereka sedang mencari kata yang
tidak lebih menyakitkan daripada "selamat tinggal"


Monday, November 7, 2016

Lepas

Dimana lagi aku dapat menemukan ketawa seperti punyamu itu, jika kau benar-benar pergi?

Dimana lagi akan aku temukan jalan pulang, jika satu-satunya rumah tak lagi ada?

Dikira aku bisa lupa?
Enak saja!

Mungkin, aku bisa melepasmu.
Tapi ketahuilah,
Yang pernah datang, tak akan benar-benar bisa dilupakan.


Monday, March 21, 2016

Gingsul

Senyummu, senyum biru pada langit
Ia seakan mengajakku untuk menggapai itu

Tapi apa kau lupa?

Perihal terbang, adakah manusia yang bisa?

Saturday, March 19, 2016

Melankoli Dini Hari

Perkenalkan! Nama saya Kobar. Dan saya adalah orang yang paling bahagia se-eks karesidenan Surakarta saat ini. Mungkin bahagia bisa datang karena apa saja. Tapi bahagia Saya bukannya tanpa sebab. Sebutlah saya melankolis, tapi dini hari itu, Saya sedang dikelilingi orang-orang utusan Tuhan yang sedang gitaran dan menyanyikan dengan lantang lagu dari Backstreet Boys berjudul “As Long As You Love Me”.
Saya adalah seorang pekerja kantoran. Rutinitas dan tekanan membuat Saya hampir menjadi robot, zombie, atau apapun itulah. Bangun jam 7 pagi, sarapan sembari nonton berita di TV, lalu mandi. Jam setengah 8 berangkat ke kantor, jam 4 pulang. Begitu terus sampai nanti, sampai ndak tau kapan. Setidaknya itu yang saya rasakan 5 tahun terakhir ini. Bagi pekerja kantoran seperti ini stres hampir menjadi momok yang setiap saat dapat datang menghinggapi. Untuk itu biasanya para pekerja kantoran ini menyempatkan untuk refreshin. Bisa berupa travelling, shopping, atau hedon. Kalau saya melihat pola para pekerja kelas menengah yang merangkak naik, jika mereka tamasya, mereka akan memilih tempat-tempat yang lagi ngetren. Misal, bisa saja ke Raja Ampat, Bunaken, atau tempat lainnya untuk menyelam. Kalau untuk pekerja kelas rendahan bisa saja tetap menyelam, atau bahasa kerennya diving, namun lebih memilih spot yang lebih terjangkau. Umbul Ponggok, Umbul Manten di daerah Klaten bisa menjadi destinasi. Untuk masalah shopping, para pekerja kelas menengah ini bisa saja pergi ke Singapura hanya untuk belanja. Atau memakai 3 cellphone sekaligus. Tentu dengan brand-brand kenamaan dan keluaran terbaru pastinya. Bagi pekerja rendahan mereka biasa berbelanja, atau lebih tepatnya jalan-jalan, ke mall yang berbasis kedaerahan. Kalau di kota saya, Kota Solo dan eks karesidennya, mall model seperti ini menjamur. Luwes adalah salah satu contohnya. Kalau di daerah agak timur Kota Solo, tepatnya di Karanganyar ada tempat bernama Plasa Palur. Untuk hal berbau hedonisme, para pekerja menengah yang berusaha mati-matian untuk merangkak naik ini biasanya nongkrong di coffee shop yang American branded. Yang rasa kopinya sama saja dengan rasa kopi sachetan namun dengan harga berkali-kali lipatnya. Atau kalau dinner harus ke restoran dengan masakan ala Korea, yang menurut Saya cara makannya susah dan cenderung membikin mencret. Mungkin karena Saya yang kelewat udik atau perut Saya yang memang bermental pribumi, jadi kurang bisa menerima makanan macam seperti itu. Atau kalau tidak, clubbing pas weekend, joget dengan mulut penuh jejalan alkohol. Atau, melihat konser band dari luar negeri. Walaupun tidak tahu siapa band itu, maupun lagu-lagunya, yang penting nonton dulu. Buat pekerja rendahan kayak Saya, boro-boro liat konser band luar negeri. Mending buat nyicil angsuran motor. Dan untuk urusan hangout bagi Saya, cukup di wedangan. Dengan harga murah dan terjangkau, wedangan juga memberikan bentuk refreshing yang lain buat Saya. Yaitu pertemanan.
Di wedangan ini, tepatnya Wedangan RBI, saya bertemu dengan kawan-kawan yang sepemikiran. Berawal dari obrolan yang ngalor-ngidul, bonding ini terbentuk dengan sendirinya. Mulai dari film, musik, sense of humor, hingga ke politik, kita nyambung.  Saya juga tak tahu, beririsan dengan mereka kenapa bisa begitu menyenangkan. Mungkin di kehidupan yang lampau kita ini sekawanan serigala mungkin, atau bisa juga di kehidupan lampau kita ini saudara, satu ayah satu ibu. Atau karena kita mempunyai bahan obrolan yang sama, walaupun dengan sudut pandang yang berbeda-beda pastinya.
Bagi Saya, mereka ini rumah. Yang mungkin kapan saja bisa Saya singgahi. Dan kepada Kawan-kawan, sudilah kubangun rumah di hati kalian masing-masing, dan ijinkan Saya untuk pulang ke dalamnya kapan saja.

Seorang pekerja kantoran kelas rendahan yang suka ngobrol.